Anemia

Anemia lebih dikenal masyarakat sebagai penyakit kurang darah. Penyakit ini rentan dialami oleh balita, perempuan hamil, wanita, dan para pekerja pada umumnya. Ada dua tipe anemia yang dikenal selama ini yaitu anemia gizi dan non-gizi.

Anemia gizi ialah keadaan kurang darah jawaban kekurangan zat gizi yang dibutuhkan untuk pembentukan serta produksi sel-sel darah merah, baik kualitas maupun kuantitasnya.

Anemia gizi itu sendiri ada beberapa macam, yaitu:
  1. anemia gizi besi,terjadi alasannya kekurangan pasokan zat besi (Fe). Zat besi merupakan inti molekul hemoglobin yang merupakan unsur utama dalam sel darah merah. Jadi, kekurangan pasokan zat besi sanggup mengakibatkan menurunnya produksi hemoglobin.
  2. anemia gizi vitamin E, vitamin E merupakan faktor esensial bagi integritas sel darah merah. Kekurangan vitamin E sanggup menimbulkan integritas dinding sel darah merah menjadi lemah dan tidak normal sehingga sangat sensitif terhadap hemolisis (pecahnya sel darah merah)
  3. anemia gizi asam folat, sering disebut juga dengan anemia megaloblastik atau makrositik. Dalam hal ini keadaan sel darah merah penderita tidak normal dengan ciri-ciri bentuknya lebih besar, jumlahnya sedikit, dan belum matang.
  4. anemia gizi vitamin B12 atau disebut juga pernicious. Gejalanya ibarat dengan tanda-tanda pada anemia gizi asam folat, tetapi disertai dengan gangguan pada sistem pencernaan penggalan dalam.
  5. anemia gizi vitamin B6 atau disebut juga siderotic. Keadaannya ibarat dengan anemia gizi besi, tetapi kalau darah dites di laboratorium, serum besinya normal.


Anemia non-gizi sanggup terjadi jawaban pendarahan, ibarat luka jawaban kecelakaan, haid, atau penyakit darah yang bersifat genetis ibarat thalasemia (kerusakan DNA), hemofilia (kelainan pembekuan darah), dan lain-lain.

Tanda-Tanda
  1. Mengalami 4 L (lemah, lesu, letih, dan lelah).
  2. Wajah pucat.
  3. Anggota tubuh ibarat tangan dan kaki merasa kesemutan.
  4. Mata berkunang-kunang.
  5. Jantung berdegup kencang.
  6. Kurang bergairah.

Penyebab
  1. Kekurangan zat besi sehingga secara seluler terjadi pengecilan ukuran sel darah merah (microcytic). Hal itu mengakibatkan rendahnya kandungan hemoglobin (hypochromic) dan berkurangnya jumlah sel darah merah.
  2. Kekurangan asam folat dan atau vitamin Bn. Kedua zat tersebut dibutuhkan dalam pembentukan nukleoprotein untuk proses pematangan sel darah merah dalam sumsum tulang.
  3. Kekurangan vitamin B12 dan disertai gangguan pada sistem pencernaan penggalan dalam. Pada jenis yang kronis sanggup merusak sel-sel otak dan asam lemak menjadi tidak normal serta posisinya pada dinding sel jaringan saraf berubah. Dikhawatirkan, penderita akan mengalami gangguan kejiwaan.
  4. Kekurangan vitamin B5 akan mengganggu sintesis (pembentukan) hemoglobin. Penanganan gizinya sanggup dilakukan dengan menunjukkan embel-embel vitamin B6 secara oral dengan takaran 50-200 mg/hari atau sesuai tawaran dokter gizi.

Pencegahan
  1. Mengonsumsi materi makanan sumber utama zat besi, asam folat, vitamin B6, dan vitamin B12 ibarat daging dan sayuran sesuai kecukupan gizi yang dianjurkan.
  2. Melakukan tes laboratorium untuk mengetahui kandungan B12 dalam darah sehingga sanggup membedakan antara anemia biasa dengan anemia pernicious. Bila ternyata kadar vitamin B12 normal, maka sanggup dilakukan kontribusi asam folat dengan takaran 0,1-1,0 mg/hari.
  3. Melakukan tes darah secara rutin untuk melihat profil darah dan mencegah terjadinya anemia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apakah Ibu Hamil Naik Pesawat Sanggup Menyebabkan Keguguran ?